Tampilkan postingan dengan label Juli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Juli. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Perang Karbala

 


Nama karbala berasal dari akar etnis Assyria, Babilonia atau Persia. Kota ini merupakan makam umat kristiani sebelum di kuasai oleh umat islam. Tempat ini termasyhur diantaran kaum Syiah dikarenakan pertempuran karbala.

   Karbala adalah sebuah kota di irak. Jaraknya sekitar 100 km sebelah barat daya bagdad ibu kota irak (sekarang) atau pada 32,36'-59,07' LU dan 44,01'-55,95' BT. Karbala merupakan ibukota provinsi Al-karbala (sekarang). Di sinilah Husain bin Ali di makamkan. Kaum muslim syi'ah menganggap karbala sebagai salah satu tempat suci di bawah Makkah dan Najaf.

   Tepatnya pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H atau pada tanggal 10 oktober 680 M terjadi peristiwa besar dalam sejarah dunia islam yaitu pertempuran sesama kaum muslimin antara Bani Hasyim pimpinan Husain bin Ali (cucu nabi Muhammad SAW) dan keluarga serta pendukungnya sekitar 70an orang dengan pasukan bani Umayyah pimpinan Yazid bin Muawiyyah. Peristiwa ini terjadi di sebuah tempat yang bernama karbala sehingga di namakan peristiwa karbala (pertempuran karbala).

   Pertempuran ini terjadi di sebabkan oleh adanya desakan dari pihak Yazid bin Muawiyyah (kholifah bani umayyah) kepada Husain bin Ali untuk menerima dan membai'at Yazid bin Muawiyyah sebagai kholifah (penguasa) yang sah. Husain bin Ali yang merupakan cucu nabi Muhammad SAW menolak melakukan hal tersebut. Ia pergi ke mekkah dan kemudian ke kuffah bersama dengan keluarga dan pendukungnya. Dalam perjalanan ke kuffah inilah rombongan Husain bin Ali di cegat oleh pasukan Yazid bin Muawiyyah (kholifah bani Umayyah) di bawah pimpinan Ibnu Ziyad, tepatnya di karbala.

   Pertempuran yang tidak seimbangpun terjadi. Pihak Husain bin Ali terdiri dari anggota kehormatan keluarga dekat nabi Muhammad SAW termasuk wanita dan anak anak. Di pihak lain pasukan bersenjata Yazid bin Muawiyyah dengan kekuatan sebanyak 10.000 pasukan.

   Dalam pertempuran ini hampir seluruh pasukan dan anggota keluarga Husain bin Ali syahid terbunuh, termasuk Husain bin Ali sendiri kecuali wanita, anak anak dan Ali bin Husain karena sakit. Pasukan Husain bin Ali di pimpin oleh Husain bin Ali sendiri dan Abbas bin Ali sedangkan pasukan Yazid bin Muawiyyah di pimpin oleh Ibnu Ziyad, Umar bin Sa'ad dan Ubaidillah bin Ziyad.
Kemudian yang selamat termasuk Ali bin Husain oleh Ibnu Ziyad di bawa menghadap kholifah di Damaskus dan akhirnya dikembalikan ke madinah.

   Peristiwa ini kemudian di peringati setiap tahunnya selama 10 hari yang dilakukan pada bulan muharram oleh muslim Syi'ah (sampai sekarang) seperti halnya golongan sunni, di mana puncaknya pada hari ke 10 bulan muharram (hari Assyura).

   Daftar syuhada dalam pertempuran Karbala dari pihak Husain bin Ali :

A . Saudara Husain bin Ali :
  1. Abbas bin Ali.
  2. Abdullah bin Ali.
  3. Ja'far bin Ali.
  4. Utsman bin Ali.
  5. Ibrahim bin Ali.
  6. Abu Bakar bin Ali.
  7. Amru bin Ali.
  8. Muhammad bin Ali.


B . Putra Husain bin Ali :
  1. Ali Akbar bin Husain.
  2. Ali Asghar bin Husain.
  3. Abdullah bin Husain.


C . Putra Hasan bin Ali :
  1. Abdullah bin Ali.
  2. Qasim bin Ali.
  3. Hasan bin Hasan bin Ali.
  4. Abu Bakar bin Hasan bin Ali.


D . Keturunan Aqil bin Abu Tholib :
  1. Ja'far bin Aqil.
  2. Abdurrahman bin Aqil.
  3. Abdullah bin Aqil.
  4. Muhammad bin Aqil.
  5. Muhammad bin Abu Said bin Aqil.
  6. Ibrahim bin Muslim bin Aqil.
  7. Abdul Rahman bin Muslim bin Ali.
  8. Abdullah bin Muslim bin Ali.
  9. Muhammad bin Muslim bin Ali.


E . Lainnya :
  1. Muhammad bin Abdullah.
  2. Aun bin Abdullah.
  3. Ubaidah bin Al-harith
  4. Ubaydillah bin Abdullah bin Ja'far  

Misteri Seekor Naga

Naga sebagai mahluk yang mempunyai karma baik dan telah mencapai pembinaan kehidupan spiritual tahap tertentu, karena mereka telah melatih pembinaan spiritual yang sangat lama. Pencapaian spiritual yang lama ini menjadikan kaum naga memperoleh berkah dan kedudukan yang terhormat. 

Pencapaian dan karma baik yang dimiliki kaum naga, menjadikan banyak naga yang mendapatkan kesempatan untuk mengabdikan dirinya secara langsung sebagai pendamping dan pelindung Buddha, Bhodisatva, dan para mahluk suci lainnya. Sering kita melihat gambar Bodhisatva Kwan-Im sedang berdiri diatas naga yang mengantarkan kemana Sang Dewi pergi.

Kaum naga memiliki berbagai macam ras yang berbeda-beda, dan setiap ras terbagi dalam dua gender yaitu lelaki dan wanita. Dimana naga lelaki mempunyai tanduk yang membesar dibagian atasnya, tetapi naga wanita mempunyai tanduk yang lebih ramping dan kadang mengecil dibagian atasnya. 

Selain itu naga lelaki mempunyai janggut yang berkilauan seperti mutiara di dagu dan pada lehernya. Dan naga wanita akan tampak berbeda pada bentuk hidungnya, yang lebih lurus. Dagu dan lehernya tidak memiliki janggut.

Perlambangan energi naga pada Fung-Shui diakui energinya sebagai salah satu pelindung di sebelah kiri dan pembawa energi keberuntungan dengan perlambangan warna hijau atau biru. Sedangkan di sebelah kanan di lambangkan dengan energi macan. Penyatuan kedua energi yang saling melengkapi dapat membentuk suatu energi chi yang baik. 

Pada aliran Fung-Shui yang melambangkan arah angin dan musim, dikenal dengan istilah Naga Biru. Yang berarti naga timur dan merupakan perlambangan dari musim spring, dan awal tahun. Macan putih yang berarti macan barat dan merupakan perlambangan arah barat. 

Naga merupakan salah satu dari mahluk alam lain yang sangat unik dalam memilih lokasi. Mereka tidak akan sembarang, bahkan dapat dibilang benar-benar sangat berhati-hati dalam menilai dan memperhitungkan lokasi tempat kediamannya. Sehingga tempat dan lokasi yang disukai oleh kaum naga, biasanya akan memiliki energi chi yang sangat tinggi dan baik.

Kelebihan dari kaum naga ini, yang menjadikan kaum naga dikenal memiliki banyak energi berkah dan rejeki yang berlimpah dibandingkan mahluk lainnya. Sehingga beberapa Master Fung Shui yang dapat mengetahui keberadaan naga, akan mempertimbangkannya sebagai suatu kelebihan yang sangat positif. 

Inilah beberapa contoh tempat yang lebih disukai oleh kaum naga: 
Pertama, tempat dimana terdapat pohon yang pernah disambar petir dan terbakar. Kedua, di laut pada bagian tengah teluk, biasanya ditandai dengan motif ombak yang seperti sisik naga. Ketiga, di dekat pinggir pantai yang terdapat banyak batu karang yang menonjol di permukaan laut. Keempat, di danau yang tenang dan bersih di gunung ataupun di kaki gunung. Kelima, di dalam gua, dimana sering muncul pelangi di atas atau dari dalam mulut gua.

Karena pada umumnya tempat yang disukai Naga sangat erat hubungannya dengan elemen air. Maka naga banyak dihubungi dengan dewa hujan dan batara indra, dewa halilintar (li-kong). Hal ini erat hubungannya dengan cara fung-shui yang mempergunakan unsur air sebagai pembawa energi berkah dan kekayaan.

Untuk menjadi naga diperlukan pembinaan yang tidak mudah, dan waktu yang sangat lama. Salah satu jenis naga berasal dari ular air. Ular air bilamana telah bermeditasi selama 500 hingga 1000 tahun, akan berubah menjadi Ular-Ikan ( ½ Ular ½ Ikan) dimana kepalanya masih berupa ular, tetapi tubuhnya mulai membesar sedikit dan sisiknya membesar seperti ikan, juga ekornya mulai berupa ekor ikan.

Ular-Ikan ini bila melanjutkan meditasinya selama 500 tahun hingga 1000 tahun, maka akan berubah menjadi Ikan-Naga ( ½ Ikan ½ Naga ). Ikan-Naga mempunyai tubuh dan ekor seperti ikan, tetapi kepalanya membesar dan telah menyerupai kepala naga. Pada tahap ini ada juga yang telah menampakkan tanduk kecil di atas kepalanya.

Di Indonesia, Ikan-Naga ini banyak dijumpai di daerah pantai selatan pulau jawa dan bali, karena berkah yang dimiliki Ikan-Naga ini maka banyak penduduk setempat menghormati Ikan-Naga agar dapat diberikan hasil ikan yang berlimpah dan bebas dari wabah penyakit menular. 

Ikan-Naga juga mempunyai unsur air yang sangat kuat, sehingga oleh masyarakat jawa di masa lampau banyak diundang sebagai energi yang dapat mencegah terjadinya kebakaran terlebih-lebih dimusim kemarau yang panjang.

Ikan-Naga yang melanjutkan meditasi selama 500 tahun hingga 1000 tahun, akan berubah menjadi Naga Tanpa Tanduk. Seluruh tubuhnya sempurna menjadi naga, dengan warna yang menyerupai biru kehijauan. Walaupun ada juga yang telah mempunyai tanduk, tetapi tanduk dikepalanya masih sangat kecil sekali. 

Naga tanpa tanduk ini banyak di jumpai dalam hiasan kerajaan-kerajaan di tanah jawa pada masa lampau. Dimana energi yang terpancar dari naga tanpa tanduk dapat menambah pamor dan wibawa dari tempat yang di diaminya.

Naga Tanpa Tanduk akan menjadi Naga Bertanduk bilamana dapat bermeditasi selama 500 tahun hingga 1000 tahun lagi. 
Naga Bertanduk mempunyai tanduk besar yang sempurna, dan ditumbuhi janggut panjang yang berkemilauan seperti pearl. Naga Bertanduk pada tingkat ini sebagian telah dapat terbang di angkasa tetapi kemampuan jangkauannya masih terbatas.

Dibutuhkan meditasi sedikitnya 1000 tahun untuk mencapai Naga Emas yang sempurna, tubuhnya dapat berubah warna seperti: cahaya emas, ataupun warna matahari. Naga Emas dapat terbang kesegala penjuru alam, walaupun tampaknya tidak mempunyai sayap. Adapula jenis naga lainnya yang tampak memiliki sayap di badannya.

Tidak banyak naga yang dapat mencapai tingkat Naga Emas. Salah satunya dapat kita lihat sebagai pengikut Bunda Mulia yang mengabdikan dirinya pada Bunda Mulia dan mendapat tugas untuk memegang dan menjaga Pusaka Stempel Perintah Bunda Mulia. Selain itu banyak pula naga-naga lainnya yang mengabdikan dirinya untuk menjaga dan menjunjung tinggi perintah Bunda Mulia. 

Salah satu kursi tahta Bunda Mulia merupakan jelmaan dari 12 naga, dan jubah dan tongkat Kebesaran Bunda Mulia juga merupakan jelmaan dari naga-naga emas. Pada saat Bunda Mulia menampakkan dirinya di gunung Kun-Lun, 12 naga menjelma sebagai alas duduk Teratai Emas Bunda Mulia. Pada bagian atas Teratai emas Bunda Mulia tampak sinar putih bagaikan cahaya matahari dan sinar emas bagaikan cahaya rembulan. Cahaya ini merupakan sinar dari tubuh dan janggut naga yang menjelma sebagai Teratai Emas. 

Masih banyak lagi kisah naga yang mengabdikan dirinya pada Bunda Mulia, Bodhisatva, pewaris ajaran dan murid Bunda Mulia. Hasil meditasi dan karma baik dari kaum naga, menjadikan kaum naga memiliki berkah dan energi rejeki yang luar biasa banyaknya. Hal ini membuat kaum naga banyak di hormati dan di berikan persembahan oleh manusia. Semua ini bertujuan, agar kiranya sang naga sudi melimpahkan berkah keberuntungan yang dimilikinya.

Kaum naga juga dapat mengerti bahasa burung dan binatang lainnya. Dimana ada suatu cerita legenda yang menjelaskan bilamana seseorang memakan hati naga, dia dapat mengerti bahasa binatang. Kepercayaan ini tidak hanya dipercayai oleh masyarakat China terdahulu, tetapi juga di indonesia. Cerita tentang hati naga yang menjadikan seseorang mengerti bahasa binatang juga dipercayai oleh penganut kepercayaan jawa kuno di Indonesia. 

Kisah ini mungkin telah menjadi legenda di tanah jawa, kisah hati naga dapat dilihat pada cerita Aji Saka. Aji Saka merupakan orang pertama yang menginjak tanah jawa dan sebagai nenek moyang manusia di tanah jawa.

The Historic Villages of Shirakawa-go and Gokayama




The remote mountain villages of gassho-style houses in Shirakawa-go and Gokayama on the Hida Highlands were registered as cultural heritage sites in 1995. The scenery of the mountain villages blending in with the nature of each season - fresh green leaves in spring, tinted leaves in autumn, winter snow - and the atmosphere of the villages with traditional houses standing side by side looks just like a fairy tale.
Houses built in the "gassho style" are defined as having a roof in the shape of a triangle, similar to hands folded in prayer. In the multilayer structure, the 3rd and 4th floors are particularly characteristic as they demonstrate the wisdom of the farmers who are able to raise silkworms even in the harsh winters. The area for the silkworms is up in the attic where the heat from the first floor, filled with people and activity, rises up. The roof has an impressive slope of 60° to allow the heavy snow (sometimes as much as 4 meters) to slide off more easily.

The observatory at the site of Ogimachi Castle is a popular spot from which to view "Shirakawa-go Ogimachi village" where 59 houses are clustered. This upland vantage point is perfect for a panoramic view of the Gassho-style village in the verdure of spring, the tinted leaves of autumn or the snows of winter. "Wada House" and "Nagase House" in Ogimachi village are open to the public, offering an opportunity to learn about how people lived long ago. Many tourists visit here specifically to see the water-discharge exercise performed on the last Sunday in October every year.

In Gokayama, we recommend a visit to "Ainokura Village" where 24 houses stand against a background of mountains, and "Suganuma village" with 9 houses including 2 that were built during the Edo era. Well worth a visit are the following houses, designated as important cultural assets of Japan: "Murakami House" where the head of the family relates the history of Gokayama to visitors as they sit around the open hearth, "Haba House" that retains the most well-preserved gassho structure with very little renovation, "Iwase house", which is the largest gassho-style house in Gokayama with 5 floors and an interior constructed of zelkova wood.

Shirakawa Village Ohno-gun Gifu prefecture, Kamitaira Village / Taira Village Nanto City Toyama prefecture
 
© Copyright 2035 ardiansyah Blog's
Theme by Yusuf Fikri