Rabu, 20 Juni 2012

Jejak Manusia Kerdil di Meru Betiri


belum lama ini ditemukan jejak manusia kerdil di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jember, Jawa Timur. Manusia kerdil ini ukurannya jauh lebih besar dibandingkan manusia kecil di Cile, dan kelihatannya lebih tepat disebut manusia cebol.
Anang Ritarno, aktivis Kelompok Indonesia Hijau Jawa Timur, mengaku telah menemukan jejak manusia kerdil itu. "Saya menemukan jejak manusia kerdil itu secara tidak sengaja," katanya beberapa bulan lalu. Jejak manusia liliput yang ditemukan di sekitar muara sungai Nanggelan, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, Jember, seukuran korek gas. Setelah diukur, panjang telapak kaki itu dari ujung jempol hingga tumitnya hanya 9,2 cm, lebarnya 2 cm, dan panjang jempolnya 1 cm.
Penemu jejak kaki manusia cebol ini mengaku sebelumnya pernah dua kali menyaksikan manusia seperti itu, yaitu pada 1984 dan 1999. "Saat itu saya sedang mengikuti acara training mahasiswa pencinta alam di muara sungai sekitar pantai Sukamade dan pantai Nanggelan," ujar pemandu mahasisiwa pecinta alam itu. Tanpa sengaja, dirinya melihat 8 orang kerdil tengah bercengkerama di tepian sungai sambil menikmati udang hasil tangkapan mereka. Dalam jarak sekitar 15 meter, Anang melihat manusia mini itu berambut gimbal sebahu, kulit hitam, tinggi badan sekitar 60-70 cm, tanpa busana, dan berjalan tegak layaknya manusia. "Begitu melihat kehadiran saya, mereka langsung melarikan diri masuk hutan," ungkapnya.
Hal yang sama juga pernah dialami oleh seorang anggota DPRD Jember, Herry Budi Ermawan. Anggota dewan yang punya hobi memancing itu mengaku dua kali menemukan jejak manusia cebol itu, September 2002, di kawasan pantai Bandealit. "Ukurannya kira-kira seperti Ucok Baba di TV itu," katanya. Saat hendak memancing di muara, Herry melihat lima manusia kerdil juga sedang menangkap ikan dengan alat kecil mirip tombak. Namun beberapa saat kemudian, mereka melarikan diri begitu melihat kehadiran Herry. Seminggu kemudian, Herry kembali ke tempat itu dengan membawa kamera. Ia pun berhasil menjepret rombongan manusia mini itu dari jarak sekitar 10 meter. "Tetapi anehnya, setelah saya cuci cetak lima lembar film tidak ada gambar mereka, hanya latarnya saja."
Cerita mengenai keberadaan manusia cebol itu memang sudah lama diketahui masyarakat sekitar taman nasional itu. Masyarakat sekitar kawasan taman nasional menyebut manusia mini itu dengan sebutan wong wil atau siwil yang berarti orang kecil. "Saat ini sudah tercatat 45 orang warga sekitar taman nasional yang menyaksikan keberadaan mereka," kata Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Jember, Siswoyo. Menurutnya, kabar adanya manusia mini itu telah sering didengar petugas taman nasional sejak setahun lalu, namun baru kali ini ada penemuan jejak mereka dan berhasil diabadikan dengan kamera.
Siswoyo menambahkan, ada 37 kasus yang pernah ditemui masyarakat tentang keberadaan manusia kerdil itu. Mereka diketahui mengganggu sejumlah nelayan atau pencari ikan di sekitar muara dengan cara mengambil ikan hasil tangkapan masyarakat sekitar hutan tersebut. "Jejaknya ada dan difoto oleh seorang fotografer pencinta alam pada tanggal 13 Februari 2003," katanya. Tinggi manusia kerdil itu diperkirakan 80 cm, panjang tapak kaki dari tumit sampai ibu jari sekitar 9,7 cm dan lebar tapak kaki 3,2 cm.
Menyangkut keberadaan manusia kerdil yang dilaporkan berkeliaran di sekitar muara sungai dan pantai di kawasan TNMB, Ir. Siswoyo mengaku masih belum bisa merekam keberadaan manusia itu. Empat kamera otomatis sengaja dipasang di sekitar tempat warga yang pernah berpapasan dengan siwil, tetapi tak satu pun berhasil mengabadikannya. Saat ini, pihak TNMB sudah memasang 14 perangkat foto trap di sudut-sudut hutan itu, namun keberadaan mereka belum juga terekam.
(Dari berbagai sumber)

PENYAKIT KERDIL HAMPA, KERDIL RUMPUT DAN CARA PENGENDALIANNYA

 
Tanaman padi varietas Cisadane dinyatakan rentan terhadap penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Berkenaan dengan hal tersebut perlu diketahui seperti apa penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput serta bagaimana penyebarannya serta cara-cara pengendaliannya.
1. Penyakit Kerdil Hampa
Penyakit ini disebabkan oleh virus kerdil hampa padi yang ditularkan secara persisten oleh wereng cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) dan spesies lain dalam genus Nilaparvata (Hibino 1989; Milne and Ling 1982). Virus ini dapat memperbanyak diri di dalam tubuh vektor, tetapi tidak ditularkan melalui telur, air, tanah, biji maupun secara mekanik (Chetanachi et al.,1979; Ling et al.,1978).
Apa Gejalanya, Bagaimana Penyebarannya, dan Epidemiologi
Tanaman padi yang diserang pertumbuhannya kerdil, daun bendera agak pendek, dan warna daun menjadi hijau tua. Daun yang baru tumbuh sering memutar dan tepinya robek, anakan bercabang dan terdapat bengkakan sepanjang tulang daun, keluiarnya malai terhambat dan menyebabkan bulir menjadi hampa (Hibino et al.,1977).Secara alamiah sumber penyakit telah terpelihara di daerah endemis wereng cokelat, hal tersebut disebabkan karena wereng cokelat mempunyai kemampuan terbang yang jauh dan mampu melintas lautan.
2. Penyakit Kerdil Rumput
Sama halnya dengan penyakit kerdil hampa, penyakit ini juga disebabkan oleh virus kerdil rumput padi yang berbentuk benang halus sekali (filamentous thread) melingkar dengan diameter 6-8 mm dan panjang bervariasi antara 950-1.350 mm, menghasilkan protein noncapsid yang berlimpah, mengandung RNA utas tunggal dan utas ganda (Hibino et al.,1985). Partikel virus ini serupa dengan virus penyebab penyakit daun bergaris (rice stripe virus) di Jepang.
Apa Gejalanya, Bagaimana Penyebarannya, dan Epidemiologi
Tanaman padi yang diserang akan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut: tanaman menjadi kerdil, jumlah anakan sangat banyak, tumbuhnya tegak, daun menjadi pendek, sempit, berwarna hijau pucat atau kekuningan dengan bercak-bercak berwarna cokelat, kadang-kadang muncul gejala belang. Tingkat kerusakan ditentukan oleh varietas padi dan umur tanaman pada saat terinfeksi. Pada umumnya semakin tua umur tanaman pada saat terinfeksi, semakin rendah persentase pertanaman yang rusak bahkan gejala penyakit tidak tampak sampai tanaman dipanen. Gejalanya baru akan tampak pada ratun sehabis panen (Ling, 1972). Penularan virus kerdil rumput terjadi secara persisten oleh wereng cokelat Nilaparvata lugens dan dua spesies Nilaparvata lainnya. Virus ini dapat memperbanyak diri di dalam tubuh vektor, tetapi tidak ditularkan melalu telur. Virus ini juga mempengaruhi umur dan reproduksi vektornya. Bila terjadi ledakan serangan wereng cokelat yang merupakan vektor dari ke dua virus tersebut maka akan timbul endemi penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput. Penyebaran penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput di lapangan tergantung pada beberapa faktor, antara lain serangga vektor, sumber virus, varietas padi dan faktor lingkungan.
Bagaimanakah Cara Pengendalian Ke Dua Penyakit Ini ?
Pengendalian penyakit kerdil rumput maupun kerdil hampa dilakukan dengan pengintegrasian beberapa cara pengendalian dalam satu sistem terutama ditujukan untuk mengendalikan vektor, yaitu dengan cara penanaman varietas tahan, penghilangan suber virus, cara bercocok tanam, pengendalian biologi, penyemprotan pestisida berdasarkan hasil pengamatan.
Penanaman Varietas Tahan
Agar tidak terjadi serangan maka di wilayah endemis wereng cokelat, pada musim hujan harus menggunakan varietas yang tahan sesuai dengan biotipe yang berkembang di satu lokasi. Varietas yang tahan wereng coklat adalah Varietas Unggul Tahan Wereng (VUTW)-1 dan 2. VUTW-1 merupakan varietas yang tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1, yaitu PB26, PB28, PB30, PB34, Asahan, Citarum, dan Brantas sedangkan VUTW-2 yang tahan terhadap wereng cokelat biotipe 2 yaitu PB32, PB36, PB38, PB42, Cisadane, Cimandiri dan Ayung. Selain itu PB56 dan Kelara adalah varietas yang tahan wereng cokelat biotipe Sumatera Utara.
Menghilangkan Sumber Infeksi
Untuk mengurangi penyebaran penyakit kerdil rumput maupun kerdil hampa dengan cara mencabut dan membenamkan tanaman yang terinfeksi, sisa-sisa tanaman, dan ratun. Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara sanitasi secara selektif terhadap tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai inang virus atau wereng cokelat.
Cara Bercocok Tanam
Pengendalian penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput yang perlu dilakukan dalam bercocok tanam padi adalah dengan melakukan pergiliran tanaman (padi dengan palawija), pengaturan air irigasi, dan pemupukan berimbang. Pergiliran tanaman dengan palawija dapat memutus daur hidup wereng cokelat dan wereng hijau, karena ke dua hama tersebut hanya berkembang dengan baik pada tanaman padi. Tanaman palawija merupakan tempat berlindung musuh alami hama wereng yaitu laba-laba. Pengaturan air irigasi cukup penting karena kondisi pengairan mempengaruhi kelembaban di bawah kanopi. Nimfa wereng cokelat tidak dapat berkembang dengan baik pada kelembaban di bawah kanopi kurang dari 60% (Isichaikul et al.,1994). Pengeringan sawah dapat meningkatkan kematian nimfa wereng cokelat. Pemberian pupuk urea yang berlebihan menyebabkan tanaman sangat baik untuk perkembangan wereng cokelat.
Pengendalian Dengan Cara Biologi
Pengendalian secara biologi dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh alami wereng cokelat. Jenis predator yang dihandalkan untuk mengendalikan wereng adalah dari jenis laba-laba (Lycosa) dan kepik (Cyrtorhinus Microvelia). Laba-laba sulit dibiakkan secara massal karena sifatnya yang kanibal. Sedangkan predator dari jenis kepik dapat diperbanyak dengan cara yang lebih mudah dibandingkan dengan jenis laba-laba, sehingga dapat dilepas dengan teknik inundasi.
Pestisida
Penggunaan pestisida harus dilakukan secara hati-hati dan bijaksana dengan berdasarkan hasil monitoring populasi. Pengambilan keputusan pengendalian hama wereng cokelat dengan pestisida dapat didasarkan pada ambang kendali yang mempertimbangkan populasi musuh alami, keputusan pengendalian ditetapkan dengan formula Baehaki (Baehaki, 1999).
Insektisida yang manjur mengendalikan hama wereng cokelat dan wereng punggung putih diantaranya adalah fipronil dan imidakloprid. Jenis insektisida buprofezin dapat digunakan untuk pengendalian wereng cokelat populasi generasi 1 atau 2, sedangkan fipronil dan imidakloprid untuk wereng cokelat generasi 1, 2, 3 dan 4. Bahan kimia nabati yang dapat membunuh wereng cokelat adalah dari ekstrak tanaman nimba. Penggunaan pestisida nabati tidak dapat disamakan dengan insektisida an-organik. Penggunaan pestisida nabati dianjurkan mulai dari saat populasi wereng cokelat masih di bawah ambang kendala.

Warna Lidah Deteksi Penyakit



Warna lidah normal adalah pink. Bila lidah berubah warna seperti dibawah ini kemungkinan menderita beberapa penyakit:

1. Lidah Putih

Orang yang lidahnya berwarna putih biasanya tampak pada penderita tipus, orang yang pencernaannya terganggu, gejala influenza, atau kurang darah. Jika lidah putih tipis tipis, itu kekurangan darah.
Jika warna lidah pucat dan lembab seperti lapisan lemak, tanda kedinginan/ gejala influenza. Jika lidah putih tebal, adalah salah satu gejala penyakit kelamin.

2. Lidah Merah

Lidah berwarna dari lidah normal sedikit merah, merah cerah lebih buruk, menunjukkan pasien menderita panas.  Bila warna merah sedikit kekuningan, menunjukkan demam tinggi.  Hanya bagian sisi yang merah atau lidah ditutupi titik titik merah, harus periksa liver pasien.  Warna lidah merah cerah, lidah seperti berlumut atau retak, adalah sindrom panas. Lidah merah yang terasa sangat kering, untuk tanda-tanda dehidrasi. Lidah ungu kemerahan menunjukkan adanya luka dalam atau luka pada perut.

3. Lidah ungu

Lidah ungu menunjukkan pasien menderita demam dan kelainan darah atau peredaran darah yang tidak lancar. Jika seluruh lidah ungu, menunjukkan sangat panas pada organ dalam. Lidah berbintik ungu, harus memeriksa liver (hati) pasien.

4. Lidah kuning

Menandakan panas tubuh yang berlebihan karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol, makanan pedas, mengalami stres emosional dalam jangka panjang, atau akibat merokok. (Erabaru/snd)

Asal-usul kediri dan sungai brantas

Pada Jaman Dahulu, Di Kediri ada sebuah kerajaan besar. Kerajaan Medang namanya. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Prabu Airlannga berasal dari Pulau Bali. Ia adalah seorang putra raja di Bali. Ia menjadi Raja Medang setelah menikah dengan Putri Raja Medang.
Saat usia Prabu Airlangga sudah tua, Ia ingin menjadi pertapa. Tahta Kerajaan Medang akan di serahkan pada Putri Permaisurinya yang hanya seorang. Ia putri yang cantik jelita. Namanya Dyah Sangramwijaya.
Dyah Sangramwijaya menolak keinginan Ayahanda nya. Ia tidak punya keinginan menjadi Raja. Yang menjadi keinginan Dyah Sangramwijaya adalah menjadi seorang pertapa. Ia lalu meminta restu ayahanda nya menjadi pertapa di Goa Selomangleng ( Di Kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Dewi Kilisuci.


Prabu Airlangga lalu berkeinginan menyerahkan tahta kerajaan pada putranya yang berasal dari selir ( Istri tidak resmi ). Kebetulan sekali, Ia memiliki dua putra dari selir. Kedua Putranya bernama Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara. Prabu kebingungan untuk memilih salah satu yang akan di beri tahta Kerajaan Medang.
Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha untuk pergi ke Bali. Empu Baradha disuruh meminta tahta kerajaan milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali untuk salah satu putranya.
Namun, Tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga.
" Tahta milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga yang bernama Anak Wungsu!" Lapor Empu Baradha setibanya dari Pulau Bali.
" Tak apa-apa, Bapak Empu! Terima kasih Bapak Empu sudah melaksanakan apa yang kusuruh. Sekarang bantu aku membagi Kerajaan Ini dengan adil untuk kedua putraku, Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara!"
" Baiklah, Baginda Raja! Bagaiman kalau hamba yang membagi kerajaan medang ini menjadi dua bagian yang sama besar?"
" Itu lebih baik Bapak Empu! Tapi, bagaimana caranya Bapak Empu membagi kerajaan ini menjadi dua bagian sama besar?"
" Serahkan semuanya pada hamba,Baginda Raja! Hamba yang akan mengaturnya!"
" Baiklah Bapak Empu! Kuserahkan semua persoalan ini kepada Anda!"

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi ( Teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Medang. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas.
Kerajaan Medang pun sekarang terbagi menjadi dua bagian. Batasnya adalah ciptaan Empu Baradha. Prabu Airlangga pun menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Medang itu kepada Raden Jayengrana dan Raden Jayanagara.
" Bagian Kerajaan Medang sebelah timur sungai aku serahkan pada Putraku Raden Jayengrana! Kerajaan itu aku beri nama Kerajaan Jenggala, Sedangkan bagian barat sungai aku serahkan pada putraku Raden Jayanagara. Kerajaan itu kuberi nama Kerajaan Kadiri ( sekarang Kota Kediri )." titah Prabu Airlangga.
Kini tentramlah hati Prabu Airlangga. Ia dengan tenang pergi dari Kerajaan Medang ( Sebelum terbelah ) untuk menjadi seorang pertapa. Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, Jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.
That's the Legend..

Selamat pagi indonesia http://bagianjawatimur.blogspot.com/2011/01/asal-usul-kediri.html#ixzz1yP58zs6s
http://bagianjawatimur.blogspot.com/
 
© Copyright 2035 ardiansyah Blog's
Theme by Yusuf Fikri