Sabtu, 12 Mei 2012

HADIST TENTANG BIJI TASHBIH (SUBHAH)

Hadits Shofiyah binti Huyay istri Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam (10), beliau berkata:
 
:دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللَّهِ وَ بَيْنَ يَدَيَّ أَرْبَعَةُ آَلاَفِ نُوَاةٍ أُسَبِّحُ بِهِنَّ، فَقَالَ: يَا بِنْتَ حُيَيْ، مَا هَذَا؟ قُلْتُ
 
 
أُسَبِّحُ بِهِنَّ، قَالَ: قَدْ سَبَّحْتُ مُنْذُ قُمْتُ عَلَى رَأْسِكَ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، قُلْتُ: عَلِّمْنِي يَا رَسُوْلَ اللَّهِ. قَالَ: قُوْلِي: سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ
 
“Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke (rumah) saya sedangkan di hadapanku ada 4.000 biji kurma yang kugunakan untuk bertasbih. Lalu beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: ‘Wahai Bintu Huyay, apa ini?’ Aku menjawab: ‘(Biji kurma) ini kupakai untuk bertasbih.’ Lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Sungguh aku telah bertasbih lebih banyak sejak aku beranjak dari sisi kepalamu daripada (tasbihmu) ini.’ Aku berkata: ‘Ajari aku (yang lebih banyak dari ini) ya Rosululloh!’ Beliau bersabda: ‘Ucapkan
 
سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ
 
(Aku bertasbih sebanyak apa yang Alloh ciptakan dari segala sesuatu apa pun).’”
 
Takhrij hadits:
Hadits di atas dikeluarkan oleh at-Tirmidzi: 4/274, Abu Bakar asy-Syafi’i dalam al-Fawa‘id: 37/255/1, al-Hakim: 1/547, dari jalan Hasyim bin Sa’id dari Kinanah maula Shofiyah dari Shofiyah.
 
Keterangan:
Hadits ini DHO’IF/LEMAH (11), didho’ifkan oleh at-Tirmidzi, beliau mengatakan: “Hadits ini ghorib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalannya Hasyim bin Sa’id al-Kufi dan sanad beliau tidak dikenal.”
Ibnu Ma’in berkata tentang Hasyim al-Kufi: “Dia tidak ada apa-apanya.”
Ibnu Adiy berkata: “Apa yang diriwayatkan tidak dapat dikuatkan dengan yang lain.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Dia adalah dho’if (lemah).”
 
Demikian juga salah satu rowi hadits ini bernama Kinanah, dia rowi yang majhul (tidak dikenal), tidak ada yang menyatakan dia terpercaya kecuali Ibnu Hibban. Akan tetapi, terdapat penguat lain meriwayatkan dari Kinanah seperti Zuhair, Hudaij (keduanya putra Mu’awiyah), Muhammad bin Tholhah bin Mushorrif, dan Sa’dan bin Basyir al-Juhani, empat orang tersebut semuanya terpercaya ditambah lagi riwayat Yazid al-Bahili hanya beliau dinyatakan terpercaya oleh beberapa ulama dan dinyatakan dho’if oleh yang lainnya. Oleh karena itu, cacat hadits ini hanyalah pada Hasyim bin Sa’id al-Kufi yang majhul (tidak dikenal) sehingga hadits ini dho’if, dan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah.
 
Bahkan hadist diatas  bertentangan dengan perintah Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam yang shohih dalam berdzikir, beliau bersabda:
 
وَاعْقُدَنَّ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْؤُوْلَاتٌ وَمُسْتَنْطَقَاتٌ.
 
“Hitunglah (dzikir) itu dengan ruas-ruas jari karena sesungguhnya (ruas-ruas jari) itu akan ditanya dan akan dijadikan dapat berbicara (pada hari Kiamat).” (HR. Abu Dawud: 1345, dishohihkan al-Hakim dan adz-Dzahabi, dihasankan an-Nawawi dan al-Hafizh, al-Albani dalam Silsilah Dho’ifah: 1/186)
Demi Allah,
Rasulullah tidak menggunakan biji-bijian apalagi biji tasbih begitu juga para sahabatnya karena mereka mengetahui hadits akan menghitung dengan ruas-ruas jari.
Demi Allah,
Tinggalkanlah ibadah yang dibuat buat, TIDAK BERDOSA TIDAK MENGERJAKANNYA, TIDAK BERDOSA MENINGGALKANNYA,,, Pilihlah yang terbaik pada hati nuranimu,,, juga disertai dengan ilmu,,,
Karena semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan
Tidaklah ada dalil hadits yang mengajarkan tentang berzikir dengan hitungan tertentu kecuali yang sudah dan biasa kita lakukan (tasbih, tahmid, takbir, lailahaillallah) sesudah shalat fardhu.
Karena Allah telah berfirman :
“Berzikirlah engkau sebanyak-banyaknya”
bukan dalam hitungan tertentu, mengapalah dalam berzikir anda membatasi dan menghitung-hitung saat berzikir kepada Allah.
Bagaimana jika Allah juga membatasi hitungan rahmat dan rejekinya pada anda?? itu tidak mungkin karena Allah Maha Pemurah dan Maha Pemberi, maka jangan dalam ibadah pakai hitung hitungan padaNya
Ibadah yang sederhana lebih baik daripada bersungguh sungguh dalam bidah
Jika ini kebenaran, sebagai seorang yang beriman mengapa tidaklah kita menerima kebenaran ini dengan lapang dada,,,
Demi Allah,
Saya tidak akan beribadah dengan cara tanpa ada riwayat yang jelas akan ibadah ini, karena nanti di Yaumil Akhir saya akan ditanya darimana ibadah ini.
Sekali lagi, TIDAK BERDOSA MENINGGALKANNYA.
Wallahualam

0 comments:

Posting Komentar

 
© Copyright 2035 ardiansyah Blog's
Theme by Yusuf Fikri